| Add caption |
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut akibat tangan manusia, agar
Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka,
agar mereak kembali (ke jalan yang benar)” (TQS. Ar Rum[30]; 38)
Selasa 18 November 2014, Presiden yang baru saja dilantik, secara resmi
dengan cepat menaikkan harga BBM yaitu naik Rp. 2000 rupiah dari harga
sebelumnya. Walau pun banyak pihak yang menentang namun Rezim Jokokwi-JK
tetap menjalankan kebijakan ini.
Banyak sekali alasan-alasan konyol yang mereka lontarkan. Alasan yang
sering mereka lontarkan adalah subsidi BBM membebani APBN, sebenarnya
subsidi BBM bukan dihapuskan, melainkan dialihkan untuk yang lain.
Dengan cara ini, maka dapat menghemat anggaran hingga 100 triliyun.
Padahal angka ini pun belum pasti kebenarannya bahkan rakyat pun
takkan pernah tahu apakah subsidi ini benar-benar dialihkan atau tidak.
“Sudah jatuh, tertimpa tangga, kena duri
pula” itulah gambaran yang dapat menjelaskan keadaan rakyat setelah
disahkannya kebijakan dzalim ini.
Bagaimana tidak, rakyat seluruhnya pun merasakan harga-harga barang
maupun jasa menjadi semakin mahal. Mulai dari sembako, sayur mayur,
rempah, hingga masalah biaya sekolah. Setiap hari kita lihat media mssa
begitu banyak penampakan yang menyedihkan dari keadaan rakyat, misalkan
saja kisah seorang tukang ojek yang semakin sulit mendapatkan penumpang
dengan harga yang ia naikkan, maka akhirnya pulang kerumah pun ia hanya
membawaRp. 5000 rupiah.
Alasan Pemerintah selanjutnya yang sering digembar-gemborkan untuk
membodohi rakyat adalah subsidi BBM salah sasaran. Sehingga dari pada
salah sasaran maka lebih baik subsidi ini di alihkan ke sektor yang
lain yaitu sektor produksi.
Kalau pun pernyataan ini benar, pertanyaannya adalah apa hubungan
subsidi salah sasaran dengan mengalihkan subsidi? Seharusnya apabila
masalahnya memang salah sasaran, seharusnya solusi yang dilakukan adalah
buat mekanisme tertentu agar penggunaan BBM bersubsidi ini tepat
sasaran. Namun pemerintah tak pernah memikirkan sama sekali solusi
seperti demikian.
Karena memang, pernyataan Pemerintah mengenai subsidi salah sasaran
adalah pembohongan dan pembodohan yang sangat kejam kepada rakyatnya
sendiri. Bagaimana tidak bohong? hasil Sensus Ekonomi Nasional tahun
2010 saja menunjukan bahwa penggunaan BBM 65% adalah rakyat kelas bawah
dan miskin, 27% menengah, 6% menengah keatas dan hanya 2% orang kaya.
Bagaimana tidak pembodohan, subsidi sejatinya adalah milik seluruh
rakyat tanpa melihat ia kaya atau miskin. Namun sekarang mereka
mempermasalahkan siapa saja yang menggunakan subsidi tersebut.
Oleh karena itu, kebijakan yang jelas mendzalimi, membodohi dan
membohongi rakyat ini wajib untuk ditolak oleh seluruh rakyat, terutama
mahasiswa. Ia harus berada di garis terdepan untuk memimpin rakyat
melakukan perlawanan terhadap kebijakan semacam ini.
Inilah akibat apabila hak membuat hukum diberikan kepada manusia.
Sejalan dengan firman Allah SWT. surat Ar Ruum ayat 38, akibat dari
kebijakan yang tidak berpegang teguh kepada aturan Allah ini telah nyata
menimbulkan kerusakan dengan banyaknya kesengsaraan. Solusinya, telah
jelas Allah gambarkan bahwa “kerusakan itu Allah turunkan agar mereka
kembali ke jalan yang benar”. Maka hanya satu solusinya yaitu terapkan
aturan Allah secara menyeluruh dalam berbagai aspek kehidupan. Hal ini
hanya akan terwujud dalam sistem Islam yaitu Khilafah. Sebaliknya tak
akan pernah terwujud dalam sistem Demokrasi yang memisahkan antara
aturan agama dengan kehidupan (sekuler). Oleh karena itu solusinya
adalah terapkan Syariah dalam bingkai Khilafah. Inilah satu-satunya
semangat dan tujuan agung, yang pantas untuk mahasiswa teriakkan dan
perjuangkan hingga titik darah penghabisan.
Febi Rizki Rinaldi
Aktivis GEMA Pembebasan Komsat Univ. Negeri Jakarta
Aktivis GEMA Pembebasan Komsat Univ. Negeri Jakarta




No comments:
Post a Comment