Baru saja terpilih, presiden Jokowi pun mendapat sambutan hangat dari
banyak kalangan termasuk dari dunia internasional, Dubes Singapura,
Amerika, Australia menjadi yang paling terdepan bertandang ke Istana
untuk memberikan selamat atas terpilihnya Jokowi.
Setelah terpilih, Jokowi yang diharapkan mampu menepis tuduhan tersebut
dengan slogan “kerja nyata” atau pro wong cilik seperti yang didengung –
dengungkan oleh partai pengusungnya ataupun timses koalisi Indonesia
Hebat ternyata hanyalah bualan kosong.
Bagaimana tidak, baru sebulan dilantik Jokowi pun memberikan kado
pahitnya, melakukan pencabutan subsidi BBM dengan berbagai alasan ini
itu. Namun tetap saja, sehebat apapun benang dipintal jika hanya
digunakan untuk menutupi bangkai, tetap saja bau busuknya segera
menyebar dan membuat rakyat muak.
Sesungguhnya, skenario pencabutan subsidi bbm merupakan amanat IMF yang
tertuang dalam Letter of Intent pada tahun 2000 tatkala IMF menjebak
Indonesia dalam jebakan hutang. Tujuannya adalah paket liberalisasi yang
pada tahun 2001 badut badut senayan membuat UU No. 22 tahun 2001
tentang migas. Lalu pada tahun 2006 dikuatkan oleh rezim SBY neolib
dengan mengeluarkan Perpres No. 5 Thn 2006 tentang kebijakan energi
nasional.
Walhasil, Sumber Daya MIGAS di Indonesia pun dikuasai asing dari hulu
hingga hilir. Tercatat 83% SDE Indonesia dikuasai oleh perusahaan asing,
sementara pertamina hanya mendapat jatah 17%. Asing Untung Rakyat
Buntung.! Hal ini disampaikan sendiri oleh mantan menteri ESDM, Purnomo
Yusgiantoro “ Sebab, kalau harga harga BBM masih rendah karena
disubsidi, pemain asing enggan masuk,” (Kompas, 14/5/2013).
Proyek liberalisasi di indonesia ini kemudian terus berlanjut dari rezim
satu ke rezim yang lain, sejak rezim soekarno membuka pintu gerbang
demokratisasi yang meniscayakan intervensi asing masuk, diteruskan oleh
rezim soeharto, dan rezim setelahnya hingga kini, rezim Jokowi-JK.
hal tersebut secara nyata terbukti tatkala Jokowi menjadi “sales”
dihadapan para perwakilan pemimpin dunia dan korporasi multi nasional
dalam KTT APEC di beijing, ia pun tanpa malu mempresentasikan potensi
alam dan energi Indonesia untuk dijarah dan dicaplok oleh kapital
kapital asing. Begitu pula dihadapan para pemimpin G-20 dalam KTT G-20
di Brisbane, Australia 15 November 2014, Jokowi menunjukkan mental
“jongos”nya tatkala meyakinkan sikap politiknya untuk menaikkan harga
bbm demi mendukung kesepakatan yang dipaksakan dalam KTT G-20 sebelumnya
di Pittsburg, AS pada september 2009.
Jelas sudah bahwa tekanan dan intervensi asing menjadi bukti Indonesia
berada dalam sebuah badai besar yang diakibatkan oleh kekuatan Ideologi
Kapitalisme Global yang dipaksakan masuk oleh negara negara kapital dan
lembaga keuangan internasional dengan menjadikan rezim demokratis dari
masa ke masa hingga era jokowi saat ini sebagai antek, jongos, boneka,
anjing penjaga perjanjian dan kesepakatan internasional busuk untuk
tetap melanggengkan penjajahan gaya baru negara negara kapital semacam
AS, Uni Eropa, Rusia, RRC, ya mereka, merekalah keparat laknat yang
harus kita lawan dan tumbangkan jika benar benar mencita-citakan
revolusi dan pembebasan. Bersatu, Bergerak, Tegakkan Ideologi Islam.!
Firmansyah Mahiwa
Aktivis GEMA Pembebasan Wilayah Jakarta Raya




No comments:
Post a Comment