Kolaborasi pengusaha dan penguasa dalam pesta demokrasi kali ini sangat
kentara keterlibatannya, berbagai bos-bos perusahaan berbondong-bondong
ikut didalamnya. Sehingga menimbulkan pertanyaan apakah ketika duduk
dipucuk kepemimpinan akan mendengarkani jeritan rakyat ataukah hanya
membeli hati rakyat dengan pundi-pundi uang dan janji-janji manis ketika
kampanye.
Pertanyaan itu bisa dijawab dari dua sisi, yakni sisi normatif teoritis
dan secara empiris melalui pengamatan terhadap pemilu yang telah
terjadi. Secara teoritis, ilmu ekonomi memiliki kerangka analisis yang
bisa digunakan dalam mencermati fenomena pemilu.
Teori yang dipakai adalah Pricipal-agent problem. Sedangkan secara emperis, walau memangkita tidak mempunyai kualitatif, bisa saja kita menarik kesimp an kualitatif mengenai efektifitas uang terhadap hasil suara yang diperoleh.
Teori yang dipakai adalah Pricipal-agent problem. Sedangkan secara emperis, walau memangkita tidak mempunyai kualitatif, bisa saja kita menarik kesimp an kualitatif mengenai efektifitas uang terhadap hasil suara yang diperoleh.
Pertama, secara teoritis principal-agent problem mengatakan bahwa tidak selamanya
orang yang menjadi representatif atau wakil (agent) dengan orang yang
diwakili (principal). Kata ‘tidak selamanya’ perlu digaris bawahi karena
kata kunci dan memiliki frekuensi (arti) jarang atau kadang-kadang
sampai sering kali. Secara harfiah dapat mengartikan bahwa wakil-wakil
rakyat yang dipilih kadang-kadang atau sering kali tidak memiliki
kepentingan yang sama dengan rakyat.
Kedua, secara empiris dilapangan setidaknya menemukan dua fenomena yang
menerik untuk dikaji. Fenomena yang pertama adalah membludaknya ribuan
pengusaha yang menjadi calon legeslatif, baik DPR maupun DPRD. Fenomena
yang kedua adalah pengusaha-pengusaha kelas kakap saat ini lebih aktif
dan terang-terangan di partai politik dengan mengerahkan kekuatan
bisnisnya secara penuh. Ada yang menjadi capres, cawapres ataupun pucuk
tertinggi di partai. Contohnya, Aburizal Bakrie, Bos Bakrie Grup yang
menjabat sebagai ketua umum partai Golkar; Surya paloh, Bos Metro Grup
yang menjabat sebagai ketua umum Partai Nasdem; Hary Tanoe, Bos MNC Grup
yangmenjabat sebagai wakil ketua umum Partai Hanura; Rusdi Kirana, pemi
lik Lion Grup yang menjabat sebagai wakil ketua umum PKB; Maupun
Prabowo yang mempunyai jaringan usaha yang menjabat sebagai ketua umum
Partai Gerindra. Praktis PDIP, PBB, PPP, PKPI, PKS, PAN yang tidak
dipegang oleh pengusaha meski tidak berarti partai-partai itu steril
dari pengaruh para pengusaha
Motif Keserakahan
Dalam fenomena yang kedua dapat dijelaskan dengan menggunakan tiga motif
utama kolomerat aktif di partai, yaitu motif suci, motif proteksi
bisnis dan motif pengembangan. Motif suci ialah yang selalu didengungkan
dan gembor-gemborkan oleh pengusaha-politisi, yakni ini berkontribusi
lebih nyata pada kepentingan lebih besar yaitu kepentingan bangsa. Namun
motif ini tidak bisa diuji kebenarnya dengan sebuah pertanyaan,
melainkan ditunjukan ketika berkuasa. Menurut data Quick count pileg
kemarin pemenangnya adalah PDIP dan GOLKAR, sudah bisa dianalisa kedepan
seandainya PDIP yang menduduki jabatan kepresidenan dengan capres
Jokowi maka Indonesia akan jatuh kedalam lingkaran pembisnis negara.
Menurut Amien Rais (INILAH.COM) bahwa Jokowi seandainya menjadi presiden
maka sudah tentu Jokowi harus tunduk dan patuh kepada kolomerat yang
telah melambungkan namanya. Pertama, kita perhatikan proyek MRT dengan
pendanaan dari pinjaman JICA sebesar 125 milyar yen. Kedua, proyek
monorel yang mana proyek ini merupakan proyek swasta murni milik Ortus
Group yang berbasis di singapura, sedangkan pendanaan berasal dari cina
sebesar US $ 1,5 Milyar.
Motif proteksi bisnis, para pengusaha merasa lebih mudah jika langsung
duduk di kekuasaan karena akan leluasa dalam mengetog palu undang-undang
yang tentunya sesuai dengan keinginan bejatnya untuk melindungi
aset-asetnya jika bersinggunagan dengan hukum. Namun bukan berarti
selama ini lewat intervensi hutang ke calon penguasa tidak efektif,
hanya saja terlalu ribet dan masih memerlukan biaya untuk sogok sana
sogok sini. Tentunya dengan sudut pandang kapitalis ‘dengan modal sangat
sedikit namun mendapat untung yang besar’’, maka inilah tred yang saat
ini terjadi.
Motif pengembangan usaha, Indonesia yang mempunyai kekayaan sumber daya
yang begitu melimpah ruah menjadi daya tarik tersendiri bagi para
pengusaha baik nasional maupun internasional ikut dalam percaturan
politik negeri ini. Karena dengan tangan-tangan kekuasan segala yang
diinginkan untuk memperkaya diri sendiri
atau kelompok sangatlah mudah. Sebagai contoh kasus blok cepu, Exxon
Mobile yaitu suatu perusahaan minyak raksasa dunia yang total sales-nya
saja lebih besar dari GDP Indonesia. Seperti ditulis Kwik Kian GIe
(kompas, 23/2/2006) bisa memaksa pemerintah AS untuk ikut campur agar
perusahaan tersebut bisa ditunjuk oleh pemerintah Indonesia, tidak
tanggung-tanggung campur tangan dilakukan oleh pemimpin tertinggi Exxon
Mobile, Duta Besar Ralph Boyce dan Presiden Bush.
Maka sudah sangat jelas, motif-motif para pengusaha ikut aktif dalam
politik maupun yang menyokong kandidat-kandidat penguasa selanjutnya
merupakan motif ekonomi sekaligus keserakahan menguras kekayaan yang ada
di Indonesia. Di katakan jika suara rakyat adalah suara tuhan,
merupakan sebuah kesyirikan dan omong kosong belaka karena suara rakyat
sekarang sudah dibeli dengan serangan fajar maupun sembako. Jadi, mana
yang dikatakan wakil rakyat , sebuah pembohongan public yang sejatinya
mereka merupakan wakil-wakil para pengusaha dan cukong-cukong.
Jalan perubahan
Perubahan menjadi suatu hal yang harus segera dilakukan, namun perubahan
yang bagaimana. Jika perubahan yang disodorkan hanyalah perubahan sosok
pemimpinnya saja, ini hanya mengulang kesekian kalinya kesalahan yang
dilakukan sejak dulu. Bukankan Indonesia sudah beberapa kali berganti
pemimpin, toh kondisi tak jauh berbeda atau bisa dikatakan gagal membawa
perubahan mendasar.
Kalau kita melihat lebih mendasar, pragmatisnya para pengusaha yang ikut
aktif dan terang-terangan dalam percaturan politik maupun calon
penguasa yang berkolaborasi dengan cukong-cukong dengan motif-motif yang
dibawanya merupakan hasil dari demokrasi dan ekonomi liberal yang
dianut negeri ini. Bagaimana tidak, biaya dalam demokrasi untuk menuju
kekuasaan memerlukan tidak sedikit dana untuk membeli suara hati rakyat.
Begitu pun ekonomi liberal yang dianut dinegeri ini memberikan
keleluasaan bagi cukong internasional ikut dalam mempengaruhi kebijakan
dalam negeri ini.
Maka, perubahan sistem menjadi suatu yang mutlak dilakukan jika ingin
mendapatkan perubahan yang hakiki. Dibawa kemanakah perubahan yang akan
dilakukan.? Apakah kembali ke sosialis-komunis, berarti akan mengulang
kesalahan ataupun tetap dalam era demokrasi-kapitalisme, sehingga tetap
berkutat dalam kubangan yang sama. Tak ada alternatif lainnya kecuali
kembali ke sistem islam, dalam konteks penerapan syariah dalam naungan
khilafahlah seharusnya arah perubhan ini berhembus. Lama kelamaan umat
akan sadar dengan konsisi carut marut yang terjadi, ketidakadilan,
penindasan dan kedzaliman yang dialamai, merekapun akan rindu dengan
penerapan syariah secara kaaffah. [ Allahu ‘alam]
Jony Kartikno
Aktivis GEMA Pembebasan Daerah Solo Raya
Jony Kartikno
Aktivis GEMA Pembebasan Daerah Solo Raya




No comments:
Post a Comment