| Add caption |
Sejak Indonesia merdeka tahun 1945, UUD 1945 telah
menetapkan bahwa Indonesia menganut sistem demokrasi, yang menjadikan rakyat
sebagai pemilik kedaulatan (kekuasaan tertinggi) yang dilaksanakan oleh Majelis
Permusyawaratan Rakyat (MPR) sebagai bentuk representasi demokrasi perwakilan.
Indonesia pernah menjalankan model demokrasi parlementer
atau demokrasi liberal, yakni sejak pemberlakuan UUD Sementara 1950 (UUDS 1950)
. Ini berlangsung sampai Presiden Soekarno menyatakan bahwa sistem pemerintahan
yang diberlakukan adalah demokrasi terpimpin yang menjadikan seluruh keputusan
serta pemikiran berpusat pada pemimpin negara, yang waktu itu Presiden
Soekarno. Pada masa Orde Baru, rezim Soeharto menerapkan demokrasi yang dia
sebut sebagai “Demokrasi Pancasila”. Demokrasi ini diciptakan lebih untuk
melanggengkan kekuasaan Soeharto.
Pasca tumbangnya rezim Soeharto, Indonesia memasuki model
demokrasi reformasi yang ditandai dengan penyelenggaraan Pemilu tahun 1999 yang
dipandang demokratis namun tetap nihil perbaikan. Alhasil, sesungguhnya selama
kurun waktu 59 tahun, yakni dari Pemilu 1955 hingga 2014, tidak ada perubahan
yang berarti dalam sistem perpolitikan Indonesia.
Hal ini semakin menjelaskan bahwa Pemilu atau Pilpres dalam
sistem demokrasi sesungguhnya tak bisa diharapkan sebagai jalan perubahan yang
mendasar. Ini karena Pemilu menurut UU Pemilu (UU No 08/2012) maupun UU Pilpres
(UU 42/2008) memang didesain hanya untuk memilih orang dan mengganti pemimpin
saja, bukan mengganti sistem.
Demokrasi Alat Penjajahan Amerika
Banyak orang yakin bahwa demokrasi adalah sistem pemerintahan terbaik saat ini. Ya, memang betul jika bandingannya adalah sistem sosialisme/komunisme, kerajaan, atau diktator. Tapi tahukah Anda, bahwa sistem demokrasi itu tidak berdiri sendiri? Ternyata sistem itu ada pengendalinya. Siapa? Siapa lagi kalau bukan Amerika
Banyak orang yakin bahwa demokrasi adalah sistem pemerintahan terbaik saat ini. Ya, memang betul jika bandingannya adalah sistem sosialisme/komunisme, kerajaan, atau diktator. Tapi tahukah Anda, bahwa sistem demokrasi itu tidak berdiri sendiri? Ternyata sistem itu ada pengendalinya. Siapa? Siapa lagi kalau bukan Amerika
Negara adidaya itu menjajakan demokrasi ke seluruh dunia
untuk kepentingan politik luar negerinya. Sebuah buku berjudul: 'America's
Deadliest Export Democracy' karya William Blum yang diterjemahkan ke dalam
bahasa Indonesia dengan judul: 'Demokrasi: Ekspor Amerika Paling Mematikan'
mengungkap fenomena demokrasi tersebut. Demokrasi menjadi alat cukup efektif
bagi Amerika untuk mendominasi dunia. William Blum menyebut, Amerika tak
menginginkan adanya kebangkitan bangsa lain sehingga ada alternatif sistem di
luar sistem kapitalisme sekuler yang dianut Amerika. Jerat Amerika ini masuk
dengan berbagai jalan baik itu bantuan ataupun penggunaan lembaga-lembaga
internasional yang notabene pemilik saham terbesarnya adalah Amerika. Mereka
memaksakan berbagai kebijakan ke negara sasaran atas nama demokratisasi,
liberalisasi, dan lainnya
Demokrasi dan Tirani Minoritas
Dalam kasus Indonesia, Amerika bekerja sama sangat erat dengan militer Indonesia sejak rezim Soeharto berkuasa. William Blum menggambarkan, kerja sama ini merupakan kerja sama paling erat di negara dunia ketiga. Militer Indonesia dinilai berjasa kepada Amerika karena telah membantu menjaga kepentingan Amerika di Indonesia atas nama demokrasi. Tak heran banyak petinggi militer yang berkiblat kepada Amerika. Termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang mengaku bahwa Amerika adalah negara keduanya. Di bidang ekonomi, Amerika merampok kekayaan alam Indonesia atas nama penanaman modal asing. Di era 60-an ketika Orde Baru lahir, Amerika mengarahkan Soeharto agar memberi jalan bagi perusahaan Amerika beroperasi di Indonesia. Ini sebagai kompensasi naiknya Soeharto ke tampuk kekuasaan setelah berhasil menyingkirkan Presiden Soekarno. Jejak intervensi Amerika ini bisa terbaca pada setiap rezim. Pergantian rezim yang satu dengan rezim yang lain tak lepas dari kendali Amerika. Tak heran jika tidak ada perubahan kebijakan yang berarti dalam setiap kurun menyangkut sepak terjang perusahaan asing di Indonesia, termasuk perusahaan Amerika. Yang terjadi malah rezim-rezim penguasa tersebut mengokohkan keberadaan perusahaan asing itu untuk terus beroperasi di Indonesia.
Dalam kasus Indonesia, Amerika bekerja sama sangat erat dengan militer Indonesia sejak rezim Soeharto berkuasa. William Blum menggambarkan, kerja sama ini merupakan kerja sama paling erat di negara dunia ketiga. Militer Indonesia dinilai berjasa kepada Amerika karena telah membantu menjaga kepentingan Amerika di Indonesia atas nama demokrasi. Tak heran banyak petinggi militer yang berkiblat kepada Amerika. Termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang mengaku bahwa Amerika adalah negara keduanya. Di bidang ekonomi, Amerika merampok kekayaan alam Indonesia atas nama penanaman modal asing. Di era 60-an ketika Orde Baru lahir, Amerika mengarahkan Soeharto agar memberi jalan bagi perusahaan Amerika beroperasi di Indonesia. Ini sebagai kompensasi naiknya Soeharto ke tampuk kekuasaan setelah berhasil menyingkirkan Presiden Soekarno. Jejak intervensi Amerika ini bisa terbaca pada setiap rezim. Pergantian rezim yang satu dengan rezim yang lain tak lepas dari kendali Amerika. Tak heran jika tidak ada perubahan kebijakan yang berarti dalam setiap kurun menyangkut sepak terjang perusahaan asing di Indonesia, termasuk perusahaan Amerika. Yang terjadi malah rezim-rezim penguasa tersebut mengokohkan keberadaan perusahaan asing itu untuk terus beroperasi di Indonesia.
Pengokohan itu dapat ditelusuri dari berbagai produk
perundangan yang berlaku. Semakin ke sini, berbagai undang-undang kian liberal.
Ini berarti membuka kran bagi masuknya investasi asing ke Indonesia. Walhasil,
demokrasi yang katanya untuk kepentingan rakyat tak pernah terbukti secara
faktual. Demokrasi menjadi alat para kapitalis—dalam dan luar negeri—untuk
mewujudkan kepentingan mereka atas nama konstitusi. Produk-produk hukum liberal
lahir dari tangan wakil rakyat. Jadi semuanya seolah dianggap legal. Dalam
situasi seperti itu, terjadilah tirani minoritas atas mayoritas. Tirani
minoritas ini adalah para kapitalis yang kini banyak bergabung dalam partai
politik. hal ini bisa terjadi karena
memang sudah terdesain oleh sistem demokrasi. Biaya politik yang mahal menjadi
jalan bagi Amerika memaksakan kehendaknya dengan menjejali wakil rakyat dengan
dolar untuk membantu kampanye dll.
Jokowi & Prabowo, Boneka Baru Amerika
Dalam pilpres 2014 pun sama seperti pemilihan sebelumnya hanya akan menjadi ajang pergantian rezim, Jokowi dan Prabowo tetap berkomitmen mempertahankan demokrasi yang berarti siap menjadi boneka Amerika, ditambah lagi keduanya telah memberi sinyal baik melalui pertemuan yang dilakukan oleh Jokowi dan beberapa korporat kapital di kedubes AS. Begitu pula dengan Prabowo yang telah menyatakan keberpihakannya terhadap kerja sama dengan AS dalam pidato yang disampaikannya saat menjadi keynote speaker di Rajaratnam School of Strategic Studies, Nanyang University, Singapura. The Wall Street Journal yang dikenal sebagai media rujukan para investor raksasa dunia dan pedagang pasar modal, secara ekslusif juga menyiarkan wawancara khusus dengan Prabowo di jaringan televisi miliknya. Pada akhirnya rakyat hanya diambil suaranya lima tahun sekali untuk melegitimasi kekuasaan tirani kapital yang berlindung dibalik penguasa boneka, lantas setelah itu rakyat dikhianati dan di dzalimi. UU terus pro asing, dan Amerika tetap mendominasi dan menjajah Indonesia.
Dalam pilpres 2014 pun sama seperti pemilihan sebelumnya hanya akan menjadi ajang pergantian rezim, Jokowi dan Prabowo tetap berkomitmen mempertahankan demokrasi yang berarti siap menjadi boneka Amerika, ditambah lagi keduanya telah memberi sinyal baik melalui pertemuan yang dilakukan oleh Jokowi dan beberapa korporat kapital di kedubes AS. Begitu pula dengan Prabowo yang telah menyatakan keberpihakannya terhadap kerja sama dengan AS dalam pidato yang disampaikannya saat menjadi keynote speaker di Rajaratnam School of Strategic Studies, Nanyang University, Singapura. The Wall Street Journal yang dikenal sebagai media rujukan para investor raksasa dunia dan pedagang pasar modal, secara ekslusif juga menyiarkan wawancara khusus dengan Prabowo di jaringan televisi miliknya. Pada akhirnya rakyat hanya diambil suaranya lima tahun sekali untuk melegitimasi kekuasaan tirani kapital yang berlindung dibalik penguasa boneka, lantas setelah itu rakyat dikhianati dan di dzalimi. UU terus pro asing, dan Amerika tetap mendominasi dan menjajah Indonesia.
Febi Rizki Rinaldi
(Aktivis GEMA Pembebasan komisariat UNJ)
(Aktivis GEMA Pembebasan komisariat UNJ)




No comments:
Post a Comment